Model keberagaman dalam mengembangkan toleransi

 

Model keberagaman dalam mengembangkan toleransi

Model keberagaman dalam mengembangkan toleransi
 
            Semangat perennial sebagaimana pemahaman nasr dan schoun dapat di jumpai dalam sejumlah ayat al qur’an, salah satunya adalah QS. Al imroon yang memerintahkan kepada nabi SAW. Agar mencari titik temu (common platform), atau kalimat sawa dalam istilah al qur’an dengan penganut yahudi dan nashrani (ahl alkitab) melalui penegasan bahwa mereka menyembah tuhan yang sama sekalipun rosul dan kitab suci masing-masing berbeda. Dengan demikian, semua agama hanya mungkin kita pertemukan lewat jalur esoteric (bathin). Dialog antar agama untuk toleransi tidak akan pernah mencapai kata sdalam melihat epakatt jika masing-masing pemeluk agama masih melihat dengan kacamata eksoteris (organized religion).
 
            Katakanlah : hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidakkita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagaimana kita menjadian sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakana kepada mereka : saksikanlah, bahwa kami ialah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). (QS. Al imron : 64).
 
            Dari uraian di atas dapat diambil lesson learning yang dapat dirumuskan dalam rangka menciptakan kesaudaraan antar umat beragama: pertama, mengedepankan sudut pandang perennial dalam melihat realitas agama, sehingga keberadaan agama lain dilihat secara positif yaitu sebagai saudara, mitra, dan competitor, dan sebaliknya tidak dipandang sebagai sebuah ancaman karena alasan perbedaan ditingkat organized religion. Kedua, membangkitkan kesadaran para pemeluk agama untuk belajar saling mendengar, mengerti dan peduli.
 
            Hubungan antar umat beragama yang selama ini berkembang umumnya masih besifat toleransi negative. Selama sikap kebanyakan ummat beragama tidak mau mengenal agama lain atau sebagian masih sebatas mengetahui apa dan bagaimana agama lain itu. Akibatnya umat masih mudah salah faham, suudhon, menaruh rasa curiga dan mudah terprovokasi yang berlebihan terhadap umat agama lain. Contoh, kketika umat Kristen mendirikan gereja dimana-dimana misalnya, emosi umat islam langsung terbakar dan mencurigai pembangunan gereja sebagai progam kristenisasi. Padahal, jika kita mengerti, dalam kristen sesungguhnya banyak terdapat aliran atau madzhab yang setiap aliran menuntut memiliki gereja masinng-masing. Contoh lain, umat Kristen selalu curiga dan bahkan takut dengan sekumpulan jamaah berjenggot yang di asosiasikan sebagai kaum fundamentalis radikal dan bahkan teroris, padahal jamaah berjenggot itu ialah jamaah tabligh yang sangat damai dan anti kekerasan. Bahkan bukan hanya umat non muslim saja yang tidak memahami farian-farian keberagamaan umat islam dalam islam, tetapi juga intern umat muslim juga tidak memahami. Hal yang sama juga bisa terjadi pada intern umat lain. Saling memahami dan saling mengerti adalah jendela untuk saling toleran, saling mengasihi dan tolong menolong.
 
            Ketiga, masing-masing umat beragama perlu mempersiapkan juru dakwah yang memiliki mindset keberagamaan yang komprehensif dan ramah yang diharapkan mampu menyosialisasikan dan melakukan penceramaan pentingnya toleransi ditingkat akar rumput. Keberadaan juru dakwah ini tidak saja mutlak untuk mencairkan kebekuan wacana toleransi yang Cuma di marakan di seminar-seminar, tetapi juga untuk mengkonter wacana-wacana intoleransi yang juga dikembangkan oleh kelompok-kelompok tertentu.

oleh : M. Izzul Muttaqin, S.PdI

 

            

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *